Jember, 12 Oktober 2026 – Fakultas Farmasi Universitas Jember (UNEJ) menyelenggarakan kuliah tamu internasional (guest lecture) dengan menghadirkan Dr. Tanawat Kongyot, dosen School of Pharmacy, Walailak University, Thailand. Dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (12/10/2026), kegiatan ini mengusung tema “Beyond Antimicrobial Resistance: The Role of Vaccines, Global Health, and One Health in Preventing Infections and Protecting the Future of Antimicrobial Effectiveness.” Tema tersebut menyoroti pentingnya pendekatan yang komprehensif dalam menghadapi resistensi antimikroba melalui pencegahan infeksi, penguatan peran vaksinasi, dan kolaborasi kesehatan global.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi dan Magister Farmasi, dosen, serta alumni Magister Farmasi Universitas Jember. Diskusi akademik dipandu oleh Dr. apt. Endah Puspitasari, S.Farm., M.Sc. selaku moderator. Kehadiran akademisi dari Thailand ini menjadi bagian dari upaya Fakultas Farmasi UNEJ dalam memperluas perspektif pembelajaran melalui pertukaran pengetahuan internasional sekaligus memperkuat hubungan akademik dengan Walailak University.

Dalam pemaparannya, Dr. Tanawat menguraikan bahwa resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) merupakan persoalan kesehatan global yang semakin kompleks. Kondisi ini terjadi ketika mikroorganisme mengalami perubahan sehingga obat antimikroba tidak lagi bekerja secara efektif dalam mengatasi infeksi. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya kesulitan dalam pengobatan penyakit infeksi, tetapi juga dapat mengancam keberhasilan berbagai tindakan medis yang bergantung pada efektivitas antimikroba, termasuk pembedahan, transplantasi organ, dan terapi kanker.

Pengendalian AMR tidak dapat hanya bertumpu pada upaya memperbaiki penggunaan antibiotik. Penyebaran mikroorganisme resisten juga berkaitan erat dengan interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. Oleh karena itu, strategi penanggulangannya perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih menyeluruh, dengan menempatkan pencegahan infeksi sebagai salah satu komponen utama. Upaya mencegah terjadinya infeksi dapat mengurangi kebutuhan terhadap antibiotik sekaligus menekan peluang berkembang dan menyebarnya mikroorganisme resisten.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kuliah tamu ini adalah kontribusi vaksinasi terhadap pengendalian resistensi antimikroba. Vaksin berperan dalam mencegah penyakit infeksi tertentu sehingga dapat mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik. Dengan demikian, vaksinasi memiliki manfaat yang lebih luas daripada perlindungan individu, yakni turut mendukung upaya mempertahankan efektivitas antimikroba dalam jangka panjang. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pencegahan penyakit dan pengendalian resistensi merupakan dua aspek yang saling berkaitan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.

Pembahasan secara khusus turut menyoroti bukti ilmiah mengenai peran vaksin pneumokokus dalam memengaruhi penggunaan antibiotik dan pola resistensi Streptococcus pneumoniae. Melalui materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengevaluasi dampak vaksinasi pada kelompok populasi yang berbeda, termasuk anak-anak dan lanjut usia. Selain itu, fenomena serotype replacement, yaitu perubahan distribusi serotipe bakteri setelah penerapan vaksinasi yang dapat ditandai dengan meningkatnya serotipe yang tidak tercakup dalam vaksin, menjadi salah satu tantangan yang perlu dipertimbangkan. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan program vaksinasi perlu disertai pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan.

Selain menekankan pentingnya vaksinasi, Dr. Tanawat juga mengangkat pendekatan One Health sebagai landasan penting dalam pengendalian AMR. Pendekatan ini mengintegrasikan perspektif kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan dalam menghadapi permasalahan kesehatan yang saling berkaitan. Penyebaran resistensi antimikroba dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari mobilitas penduduk dan perdagangan internasional hingga perubahan iklim, pencemaran lingkungan, serta kesenjangan sosial ekonomi. Kompleksitas tersebut menunjukkan bahwa penanganan AMR membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan sektor, bukan hanya sektor pelayanan kesehatan.

Materi yang disampaikan juga memperkuat pemahaman mengenai peran strategis apoteker dalam pengendalian AMR. Sebagai tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang obat, apoteker tidak hanya bertanggung jawab mendukung penggunaan antibiotik secara rasional, tetapi juga berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, meningkatkan pemahaman mengenai pencegahan infeksi, serta mendukung promosi vaksinasi berdasarkan bukti ilmiah dan rekomendasi yang berlaku. Pemahaman terhadap keterkaitan antara penggunaan obat, vaksinasi, dan kesehatan lingkungan menjadi bekal penting bagi calon apoteker untuk berkontribusi dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai materi yang disampaikan. Berbagai isu dibahas, termasuk kontribusi vaksinasi dalam mengurangi penggunaan antibiotik, perbedaan dampak vaksin pneumokokus pada kelompok usia tertentu, serta tantangan penerapan pendekatan One Health. Diskusi ini sekaligus membuka kesempatan bagi peserta untuk mengaitkan perkembangan ilmu pengetahuan dan perspektif internasional dengan kebutuhan pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, Fakultas Farmasi Universitas Jember terus mendorong penguatan kualitas pembelajaran dan perluasan wawasan mahasiswa terhadap perkembangan isu kesehatan global. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta bahwa pengendalian resistensi antimikroba memerlukan strategi terpadu yang mencakup penggunaan antibiotik secara rasional, pencegahan infeksi, vaksinasi, serta kerja sama lintas sektor. Selain memperkaya perspektif akademik, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama pendidikan dan pertukaran pengetahuan dengan institusi internasional.

Penyelenggaraan kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan upaya pencegahan penyakit dan pengendalian resistensi antimikroba, SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan perspektif akademik internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan dan kolaborasi akademik antarnegara. “Together, we can prevent infections, combat resistance, and protect the future of health.”