Pada tanggal 5 Agustus 2026, Dr. apt. Indah Yulia Ningsih, S.Farm., M.Farm. berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Special Lecture di Walailak University, Thailand. Kegiatan akademik ini merupakan bagian dari agenda Short Exchange Program at the School of Pharmacy Walailak University.
Acara ini dihadiri oleh para mahasiswa dari program sarjana (S1) dan magister (S2) School of Pharmacy, Walailak University. Selain itu, jajaran akademisi setempat juga turut hadir, di antaranya adalah Asst. Prof. Teerapat Majam, Pharm.D. dan Asst. Prof. Dr. Thunwa Binlateh. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Indah memaparkan materi komprehensif yang mengusung judul “Bacterial cellulose in pharmacy“.

(Dokumentasi Kegiatan)
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa selulosa bakteri atau bioselulosa merupakan polimer alami berupa eksopolisakarida dari kumpulan unit β-(1-4)-glukan. Polimer ini disintesis oleh bakteri tertentu, seperti dari genus Gluconacetobacter, Sarcina, dan Achromobacter. Bioselulosa memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya sangat potensial untuk diaplikasikan pada sistem biologis, antara lain biokompatibilitas, biodegradabilitas (ramah lingkungan), tingkat kemurnian dan kristalinitas yang tinggi, serta tingkat hidratasi yang mencapai lebih dari 90 persen. Selain itu, polimer ini juga memiliki kapasitas penahan air (water holding capacity) dan kekuatan mekanis yang luar biasa. Berkat karakteristik tersebut, selulosa bakteri dapat dimanfaatkan secara luas dalam bidang farmasi, seperti untuk pembalut luka, film antibakteri, biosensor, superabsorben, produk kosmetik, perancah jaringan (tissue scaffold), kemasan produk, pangan fungsional, membran filtrasi, hingga bioremediasi.
Lebih lanjut, materi kuliah tersebut juga mengupas proses produksi selulosa bakteri yang sejatinya merupakan proses alamiah di dalam sitoplasma. Proses ini membutuhkan sumber karbon, seperti glukosa dan fruktosa, pada media pertumbuhan bakteri, yang dapat dilakukan baik melalui metode kultivasi statis maupun agitasi. Berdasarkan hasil penelitian mengenai berbagai faktor yang memengaruhi karakteristik selulosa bakteri, diketahui bahwa bakteri Lentilactobacillus parafarraginis mampu menghasilkan selulosa secara efektif dan efisien. Pertumbuhan bakteri ini dapat dioptimalkan dengan menggunakan media air kelapa yang kaya akan kandungan mineral, fruktosa, glukosa, dan sukrosa. Selain ketersediaannya yang melimpah dan harganya yang murah, penggunaan air kelapa tidak memerlukan perlakuan awal (pre-treatment) sebelum proses fermentasi, sehingga proses produksi menjadi jauh lebih efektif dan ekonomis.
Rangkaian kegiatan ini tidak hanya diisi dengan pemaparan satu arah, tetapi juga dimeriahkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Para peserta kuliah menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis, seperti kelebihan air kelapa sebagai media pertumbuhan bakteri penghasil bioselulosa, strategi memproduksi selulosa bakteri secara efisien, serta perbedaan karakteristik bioselulosa yang dihasilkan oleh berbagai jenis bakteri. Kuliah tamu ini ditutup dengan pemberian apresiasi dan hadiah kepada para mahasiswa yang aktif berpartisipasi selama sesi diskusi, serta diakhiri dengan sesi foto bersama antara narasumber dan seluruh peserta yang hadir.